Pencarian
Banner
HARDIKNAS 2020PPDB2018
Login Member
Username:
Password :
Statistik

Total Hits : 308258
Pengunjung : 96534
Hari ini : 1
Hits hari ini : 3
Member Online : 19
IP : 172.16.88.155
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

Just Pentest!    Muachh<3
Agenda
27 June 2022
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9

CYBERBULLYING, PEMICU PERILAKU REAKTIF REMAJA

Tanggal : 07-11-2021 19:48, dibaca 92 kali.

Oleh : Novita Sagitarani, S.Psi
Guru Bimbingan Konseling SMA Negeri 5 Tegal

Masa remaja identik dengan masa pencarian jati diri dan mulai berusaha mengenal diri melalui eksplorasi dan penilaian karakteristik psikologis diri sendiri sebagai upaya untuk dapat diterima sebagai bagian dari lingkungan (Steinberg & Morris, 2001), sebagian remaja bisa jadi mengalami kenakalan remaja mulai dari kenakalan ringan hingga kriminal, termasuk di dalamnya kenakalan-kenakalan berbentuk cyberbullying. Penelitian Rahayu (2012) memperlihatkan 32 persen peserta didik mengatakan pernah melakukan cyberbullying dengan alasan iseng pada teman dan media yang paling banyak digunakan adalah sosial media.

Perilaku cyberbullying dapat berdampak terhadap psikologis korban. Penelitian Rahayu (2012) menemukan 37 persen peserta didik mengatakan cyberbullying memiliki dampak negatif lebih banyak terhadap korban. Dampak negatif yang dirasakan tidak hanya menyakiti perasaan,  merusak jiwa dan kondisi psikologis dari remaja sehingga menyebabkan korban depresi, sedih, dan frustasi. Salah satu dampak yang dikhawatirkan dari cyberbullying adalah korban cenderung melakukan bunuh diri. Penelitian yang dilakukan Patchin & Hinduja (2012) mengungkapkan bahwa 20 persen responden dilaporkan pernah berpikir untuk bunuh diri dan semua bentuk bullying secara signifikan berkaitan dengan meningkatnya keinginan untuk bunuh diri. Penelitian ini juga menemukan percobaan bunuh diri yang dicoba dilakukan oleh korban cyberbullying jumlahnya hampir dua kali lebih banyak dari pada remaja yang tidak pernah mengalami cyberbullying. Menurut Aroma & Suminar (2012), kontrol diri yang rendah mengakibatkan individu senang melakukan risiko dan melanggar aturan tanpa memikirkan jangka panjang.

Remaja merupakan masa dimana terjadi fase badai dan stres (storm and stress) yang memungkinkan remaja melakukan perilaku reaktif, disebut juga masa rentan dengan berbagai perilaku menyimpang dan kenakalan, salah satunya adalah perilaku bullying. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2014, jumlah kasus bullying di Indonesia menduduki peringkat teratas dari total pengaduan yang dilaporkan oleh masyarakat. Data pada tahun 2014-2016 memperlihatkan terjadi peningkatan pengaduan kasus anak sebagai pelaku bulliying di sekolah dengan 63 kasus pada tahun 2014, 97 kasus pada tahun 2015, dan meningkat menjadi 112 kasus pada tahun 2016. Fakta tersebut menunjukkan besarnya resiko kejadian bullying pada anak, termasuk di dalamnya adalah remaja. Coloroso (2006) menyatakan bahwa bullying dapat terjadi karena adanya kekuatan yang tidak seimbang. Dalam suatu kejadian bullying, terdapat tiga unsur utama yang terlibat, yaitu pelaku atau penindas, korban atau tertindas, dan penonton atau orang yang tidak terlibat secara langsung tapi turut menyaksikan kejadian tersebut. Menurut Wang, Iannotti, dan Nansel (2009), bullying dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu bullying verbal, bullying fisik, bullying tidak langsung (relational bullying), dan bullying melalui media internet (cyberbullying). Bahkan disebutkan bahwa cyberbullying adalah intimidasi yang sering terjadi secara daring (Mcvean, 2017).

Cyberbullying merupakan hal baru dari perilaku bullying dengan karakteristik dan akibat yang sama (Narpaduhita & Suminar, 2014). Menurut Willard (2005), cyberbullying merupakan kegiatan mengirim atau mengunggah materi yang berbahaya atau melakukan agresi sosial dengan menggunakan internet dan teknologi lainnya. Patchin dan Hinduja (2012) menjelaskan cyberbullying terjadi ketika seseorang berulang kali melecehkan, menghina, atau mengejek orang lain menggunakan media internet melalui ponsel atau perangkat elektronik lainnya, misalnya mengunggah gambar seseorang yang memalukan dan menyebarluaskan melalui media sosial, mengirimkan ancaman melalui pesan singkat berulang-ulang, dan menggunakan akun palsu untuk menghina orang lain.

Penggunaan teknologi internet yang terus meningkat pada remaja, beresiko terjadinya cyberbullying pada remaja. Pandie dan Weismann (2016) menyatakan bahwa kecenderungan remaja untuk menjadi pelaku cyberbullying yang pertama yaitu dendam yang tidak terselesaikan. Cara yang dapat dilakukan oleh pelaku cyberbullying karena dendam yang tidak terselesaikan diantaranya, adalah flamming (amarah) dan harassment (pelecehan). Flamming (amarah) berbentuk ujaran dengan menggunakan pesan elektronik dengan bahasa yang agresif atau kasar. Sementara, harassment (pelecehan) merujuk pada pesan-pesan yang berisi pesan kasar, menghina atau yang tidak diinginkan, berulang kali mengirimkan pesan berbahaya untuk seseorang secara online. Selain karena dendam yang tidak terselesaikan, Pandie dan Weismann (2016) juga menyebutkan bahwa cyberbullying dilakukan karena pelaku yang termotivasi (motivated offonder) untuk melakukan pembajakan, balas dendam, pencurian, atau sekedar iseng. Salah satu bentuk motivated offonder, yakni sekedar iseng dan dalam istilah bullying bentuknya adalah: a) denigration (pencemaran nama baik) yaitu proses mengumbar keburukan seseorang di internet dengan maksud merusak reputasi dan nama baik seseorang tersebut; b) impersonation (peniruan) yaitu dimana seseorang berpura-pura menjadi orang lain dan mengirimkan pesan-pesan atau status yang tidak baik; dan c) trickery (tipu daya) yaitu membujuk seseorang dengan tipu daya supaya mendapatkan rahasia atau foto pribadi orang tersebut. Selanjutnya, selain dendam dan motivasi, cyberbullying juga dapat dilakukan karena keinginan untuk dihormati dan juga karena faktor bosan dan mencari hiburan. Cyberbullying akibat kebosanan dan keisengan untuk mendapatkan kesenangan biasanya dilakukan melalui perencanaan bersama dan dilakukan secara berkelompok. Contoh cyberbullying jenis ini adalah outing, yakni menyampaikan komunikasi pribadi atau gambar yang berisi informasi yang berpotensi memalukan. Alasan lain yang membuat remaja menjadi pelaku cyberbullying menurut Pandie dan Weismann (2016) adalah faktor kesengajaan karena para pelaku mungkin tersakiti atau marah karena komunikasi yang dikirimkan dalam berjejaring sosial. Pelaku cenderung merespon dengan marah atau frustasi.

Di Indonesia, dalam UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) disebutkan bahwa siapa saja yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik yang melanggar kesusilaan, akan dipidana dengan penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak satu miliar rupiah. Perangkat hukum ini sebenarnya telah mengakomodir perlindungan dari kekerasan yang dilakukan melalui media sosial. Sartana dan Afriyeni (2017) dalam studinya pada siswa di Padang menemukan bahwa terdapat 78,0 persen siswa yang mengaku pernah melihat cyberbullying, 21,0 persen siswa pernah menjadi pelaku, dan 49,0 persen siswa pernah menjadi korban. Sementara itu, hasil penelitian Safaria (2016) juga menunjukkan bahwa 80 persen siswa (total 102 siswa) dalam penelitiannya telah sering mengalami cyberbullying dan cyberbullying dianggap sebagai peristiwa kehidupan yang penuh stres. Kasus cyberbullying diduga akan terus meningkat seiring dengan kemajuan dalam penggunaan perangkat teknologi informasi. Ada beberapa faktor yang memengaruhi motif perilaku cyberbullying yaitu faktor keluarga, kegagalan dalam mengontrol diri, dan faktor lingkungan (Pandie & Weismann 2016).

Faktor Dasar yang Melatarbelakangi Motif Pelaku Cyberbullying, pengertian Bullying maupun perilaku-perilaku antisosial lain yang lebih umum memiliki faktor-faktor risiko latar serupa: biologis, personal, keluarga, kelompok sebaya, sekolah/institusi dan masyarakat. Ada beberapa factor yang memengaruhi motif perilaku cyberbullying: (1) Prediktor Keluarga, Khatrin mengutip pendapat Schwartz, Shields dan Cicchetti menjelaskan bahwa keterlibatan dalam membullying orang lain berkaitan dengan prediktor-prediktor keluarga, seperti kelekatan yang insecure, pendisiplinan fisik yang keras dan korban pola asuh orang tua yang Overprotektif, secara tidak sadar anak atau remaja memproyeksikan kekacauan batinnya keluar (disebabkan oleh berantakannya keluarga dan lingkungan rumah sendiri) dalam bentuk konflik terbuka dan perkelahian individual maupun masal. Remaja bisa distimulir oleh kondisi rumah tangga yang berantakan, Perlakuan tak semestinya dan penganiayaan oleh orang tua kemungkinan besar adalah risiko-risiko faktor pada bully (pelaku bullying) atau korban atau kelompok korban agresi. Di sisi lain, situasi keluarga yang kisruh, kacau, acak-acakan, liar sewenang-wenang, main hakim sendiri, tanpa aturan dan disiplin yang baik, tidak mendidik dan tidak memunculkan iklim manusiawi maka anak secara otomatis dan tidak sadar akan mengoper adat kebiasaan tingkah laku buruk orang tua serta orang dewasa yang ada di dekatnya. Sehingga remaja ikut-ikutan menjadi sewenang-wenang, liar, buas, agresif, suka menggunakan kekerasan dan perkelahian sebagai senjata penyelesaian, (2) Faktor Internal, tingkah laku yang menjurus pada kriminalitas, merupakan kegagalan sistem pengontrol diri anak terhadap dorongan-dorongan instinktifnya. Dengan kata lain, anak muda tidak mampu mengendalikan naluri (instink) dan dorongan-dorongan primitifnya dan tidak bisa menyalurkannya ke dalam perbuatan yang bermanfaat dan lebih berbudaya, (3) Faktor Eksternal atau Eksogen, dikenal sebagai pengaruh alam sekitar, faktor sosial atau faktor sosiologis yang merangsang dan pengaruh luar yang menimbulkan tingkah laku tertentu pada remaja (tindak kekerasan, kejahatan, perkelahian masal dan seterusnya). Kelompok sebaya dan lingkungan atau iklim sekolah secara umum juga memiliki efek kuat bagi peserta didik menjadi pelaku bullying.



Pengirim : Novita Sagitarani, S.Psi
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas